Uncategorized

Kuburan dan Suara Tangisan

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama.

Sudah hampir dua tahun saya di kota ini, Mamuju, dan sudah hampir dua tahun juga kami berada di rumah kontrakan pertama kami. Masih teringat ketika pertama kali kami menjejakkan kaki di kota ini, saat itu baru seminggu kami melangsungkan acara pernikahan kami. Karena tugas, saya di mutasikan dari Merauke ke Mamuju. Jauh ?, iya dan melelahkan.

Rumah kontrakan kami terdiri atas teras, ruang tamu, 2 kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Jangan tanya di seberang jalan itu ada apa ?. Di situ ada kuburan, bukan satu tapi banyak karena memang itu adalah perkuburan keluarga. Memudahkan saya bila ada yang bertanya alamat rumah, “di depan kuburan” jawabku. Teman-teman di kantor sering memanggilku “juru kunci kuburan”.

Tetangga sebelah kanan kami adalah mahasiswa, sering sekali mereka ribut ketika mengerjakan pekerjaan kampus, tidak jarang anak saya bangun karena kaget mendengar suara mereka. Sedangkan tetangga sebelah kiri adalah dua orang pekerja kantoran, sepertinya mereka bekerja di PLN, kami jarang atau tidak pernah bertegur sapa dengan mereka.

Di Mamuju setiap orang seperti bersikap individualis, jarang saya lihat para tetangga berkumpul untuk membicarakan sesuatu hal. Entahlah, mungkin memang begitu kebiasaan orang-orang di sini. Jangan tanya nama-nama para tetangga saya, cuma beberapa yang saya kenal. Ketika ada orang yang bertanya alamat di sekitar rumah, saya hanya menjawab tidak tahu. Jangankan tetangga, Pak RT saja saya tidak tahu. Atau malah tidak ada Pak RT di lingkungan sini.

Suatu malam istriku mendengar suara perempuan menangis dan suara benturan benda ke dinding dari rumah sebelah kanan (rumah kost mahasiswa). Istriku menduga mahasiswa tersebut berkelahi dengan teman yang datang kerumahnya. Suara benturan itu sendiri diduga adalah suara kepala si mahasiswa yang dibenturkan ke tembok. Sontak istriku kaget dan memastikan ada suara perempuan menangis. Setelah memastikan sumber suara tersebut kemudian dia memberi tahuku. Sayapun tidak ingin langsung mengambil kesimpulan. Saya memastikan kembali perihal suara yang kami dengar. Dan sesuai pemberitahuan istriku, sayapun mendengar suara dimaksud.

KIami tidak ingin langsung bertindak, takut saja kalau yang kami duga ternyata salah. Setelah berdiskusi sejenak maka kami memutuskan untuk memberitahu Bapak pemilik kost tempat si mahasiswa tinggal. Setelah memberitahu Bapak kost, kamipun mendekati rumah si mahasiswa memastikan ada suara di maksud. Setelah lima menit kami berada di depan rumah si mahasiswa, kamipun mendengar suara tangisan perempuan yang kali ini di ikuti bentakan suara laki-laki. Si Bapak kost kemudian kembali ke rumahnya, katanya akan menghubungi mahasiswa yang tinggal di rumah tersebut via telepon. Selang beberapa menit suara tangis tidak lagi kami dengar dan sayapun kembali ke rumah.

Sekitar tiga puluh menit setelah saya kembali ke rumah, terdengar suara seorang laki-laki memberikan salam dari luar rumah. Sayapun membalas salam dan membuka pintu rumah. Laki-laki tersebut ternyata teman si mahasiswa. Dia menyampaikan permintaan maaf karena telah membuat sedikit keributan dan memberitahu bahwa suara tangisan, benturan dan bentakan tersebut dikarenakan si mahasiswa kesurupan. Setelah memberitahuku, laki-laki tersebut kembali ke rumah si mahasiswa dan kami sekeluarga dapat tidur dengan tenang.

Hal yang saya tidak sukai dari peristiwa ini adalah sikap Bapak kost yang membiarkan si mahasiswa menerima tamu lawan jenis hingga malam. Juga sikap Bapak kost yang menelpon dari rumahnya. Menurut saya lebih baik kalau kita masuk kerumah kost tersebut dan dapat melihat langsung kejadian sebenarnya. Tapi ya sudahlah, toh sudah berlalu.

Keesokan harinya, si mahasiswa datang kerumah kami. Ketika itu istriku sedang bermain dengan anak kami di teras rumah. Si mahasiswa mengucapkan permintaan maaf atas kejadian semalam dan memberitahu kami perkiraan penyebab dia kesurupan. Si mahasiswa pun menunjuk sebuah kuburan di belakang rumah kami. Kami baru menyadari hal tersebut.

About molen

Maulana riska.. bungsu dari tiga bersaudara. berusaha selalu berpikir positif dan menuliskan tentang kehidupan menurut pandangannya. Seorang PNS yang ingin selalu maju dengan Go.. Blog..!!!

Discussion

5 thoughts on “Kuburan dan Suara Tangisan

  1. serem juga kl ada yg kesurupanšŸ˜€

    Posted by myra anastasia | April 15, 2013, 5:46 pm
  2. horor bgt o yaak, hehe. tapi mencurigakan juga kalo ga liat secara langsung, apakah betul-betul kesurupan atau emang beneran berantem, hehe
    salam kenal

    Posted by asfia | April 19, 2013, 3:45 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: 8 Minggu Ngeblog: Minggu 1 | AngingMammiri.org - April 16, 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s